Pages

Selasa, 04 Desember 2012

Sesuatu telah mengarahkanku ke tempat ini


Aku tidak begitu ingat…kapan tepatnya waktu itu mungkin sekitar tahun 2003 di saat aku masih mengenyam bangku kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya. Setiap hari aktifitas ke kampus aku jalani dengan naik angkot dari Sidoarjo – Surabaya. Setiap kali aku turun di terminal Joyoboyo, terminal yang dikhususkan untuk angkutan umum dengan trayek (jalur) yang berbeda – beda dan aku memilih BEMO LIN P (Angkutan dengan jalur tujuan akhir adalah pantai kenjeran) karena angkutan ini memang melewati depan kampusku. Aku tidak menyadari aktifitas yang terjadi di sekelilingku terutama di Terminal Joyoboyo hingga suatu saat aku melihat bahwa banyak sekali anak – anak yang berkeliaran di tempat itu ada yang bekerja sebagai pengamen, pedagang asongan, dll. Dalam hati aku berkata “Ya Tuhan, apa yang mereka lakukan di tempat ini dalam usia mereka yang begitu muda. Kemanakah orang tua mereka?Apakah kemiskinan telah membawa mereka ke tempat ini?”. Sepulangnya dari kampus aku bercerita pada Bapak tentang apa yang telah aku lihat..mungkin entah kenapa baru saat ini aku ceritakan hal itu pada Bapakku.karena pemandangan seperti ini, di kota besar seperti Surabaya itu sudah biasa “Lumprah” kata orang jawa. Sehingga hanya sedikit orang yang memberikan perhatian akan hal itu. Dari hasil cerita dengan Bapak saya mengetahui tentang Komunitas Alang – Alang yang lokasi tempatnya tidak jauh dari Terminal Joyoboyo. Di tempat itu, anak – anak kecil hingga remaja diajari berbagai macam keahlian salah satunya seni musik, teater dan seni kriya. Mungkin karena komunitas ini sudah ada sejak lama…keberadaan mereka telah di kenal luas oleh masyarakat Surabaya. Setiap kali diselenggarakan event  salah satunya di Balai Pemuda, komunitas ini pasti ikut serta meramaikan acara tersebut. Tapi yang jelas sebagai organisasi sosial, sekarang mereka telah mandiri. Terakhir saya mendapat kabar bahwa komunitas tersebut telah menjadi LSM yang bergerak dibidang sosial. “Alang – Alang” menjadi besar karena hasil dari sebuah perjuangan yang tulus ikhlas dari seorang laki-laki yang bernama Pak Didit serta dukungan dari keluarganya maupun masyarakat.
                Waktu terus berjalan hingga aku menyelesaikan kuliah dan  pertanyaan – pertanyaan dari orang tua setiap hari menggelitik telingaku.
Bapak  : Nduk kapan koen golek kerjo???mosok wis sarjana kok cuman mangan turu wae nang ngomah dadi opo koen iku mengko??!!! (Nduk {panggilan untuk anak perempuan} kapan kamu mencari kerja???masa udah sarjana kok cuma makan tidur aja di rumah jadi apa kamu nanti)
Aku : Enggih pak..méngke (Iya pak..nanti)
Karena bosan menerima pertanyaan – pertanyaan yang sama akhirnya aku mencoba melamar pekerjaan kemana – mana hingga pernah bekerja sebagai sales “door to door” istilah yang dipakai untuk seseorang yang menawarkan dagangan dari rumah ke rumah jadi langsung menjemput umpan. Tetapi bedanya kita harus berpenampilan rapi, dimana yang perempuan pakai jas dan laki - laki pakai kemeja berdasi.
wah banyak peristiwa yang aku alami ketika bekerja menjadi sales “ door to door” ini. Aku pernah diusir dari rumah calon pembeli dengan perkataan yang sangat kasar maupun halus, pernah juga membanting pintu di depan mukaku tapi ada juga yang baik. Dari sini aku mulai di “ajari” tentang hidup sesungguhnya. Perjuangan untuk mencari beberapa lembar rupiah dan belajar menghadapi berbagai macam karakter manusia hanya supaya mau membeli barang yang saya tawarkan. Berat memang…tapi aku harus terus menjalaninya hingga suatu saat orang tuaku kasihan melihatku dan memintaku keluar dari pekerjaan itu. Akhirnya aku keluar kemudian  disarankan oleh orang tuaku untuk belajar bahasa inggris di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Ketika berada di sana, aku menyempatkan diri browsing di internet untuk mencari pengumuman lowongan CPNS akhirnya ketemu di Instansi LIPI dan Departemen Perikanan Kelautan (DKP). Aku mencoba mendaftarkan diri pada kedua instansi tersebut dan mengirim berkas – berkas yang diperlukan. Hingga suatu hari muncul pengumuman di internet pada website instansi LIPI bahwa aku dipanggil untuk mengikuti ujian tulis di Jakarta. Waktu itu aku binggung sekali sampai aku bertanya apakah aku boleh ikut seleksi ujian tulis di Jakarta. Akhirnya orang tuaku mendukung serta membiayai keberangkatanku untuk yang pertama kalinya menginjakkan kaki di kota Jakarta. Meski pada keberangkatan pertama aku ditemani oleh paman dari Ibuku tetap saja perasaan takut masih menyelimuti pikiranku..tapi aku tetap nekat bermodal keyakinan pada Sang Maha Pemberi Rizki dan doa orang tuaku. Aku tetap melangkahkan kakiku menuju kota Jakarta awal tahun 2006 dengan menumpang kereta api kelas ekonomi dari stasiun pasar turi turun di stasiun Jatinegara. Setelah beberapa minggu kemudian, hasil pengumaman keluar dan menyatakan bahwa aku dipanggil untuk seleksi wawancara, begitu seterusnya hingga seleksi terakhir adalah psikotest. Pada awalnya ngeri dan minder yang aku rasakan ketika mengikuti ujian ini karena di tempat aku menjalani ujian, banyak sekali teman – teman yang juga mengikutinya dari berbagai universitas terbaik di Indonesia (UGM, ITS, UI, IPB, ITB, UNAIR, UNIBRAW, UNPAD, UNDIP dan masih banyak lagi). Tapi..yah sekali lagi keyakinanku terhadapNya yang terus menenangkan hati ini untuk tetap melangkah. “Tiada satupun hal yang tidak mungkin terjadi jika DIA telah menghendakiNya, meskipun bagi kita itu mustahil”. Hingga suatu saat pengumuman dari internet telah keluar dan aku dinyatakan sebagai salah satu peserta seleksi ujian yang dinyatakan lolos dan di tempatkan di Satker UPT Loka Pengembang Bio Industri Laut – Lombok, NTB. “Subhanallah”..aku langsung bersujud waktu itu dan bersyukur atas nikmat yang telah Allah limpahkan padaku. Aku memilih di tempatkan di Lombok salah satunya disebabkan karena ingin lebih mandiri dan menjauh dari kebisingan suasana kota. Meskipun aku sempat mengalami sock culture beberapa bulan karena lokasi kerja yang sangat jauh dari keramaian dan fasilitas umum seperti mall, tempat makan yang enak, bank/atm dll hingga hampir setiap hari sepulang kerja aku pergi ke mataram sendirian menginap di salah satu rumah teman dari Bapakku yang ada di Mataram. Sebelum aku berangkat ke Lombok, aku diharuskan tinggal untuk sementara waktu di Jakarta dan berkantor di Pusat Penelitian Oseanografi untuk memperoleh pengarahan dan perkenalan lebih dalam tentang LIPI khususnya Pusat Penelitian Oseanografi yang lokasinya di depan Taman Impian Jaya Ancol. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merupakan Instansi pemerintah non departemen yang bertugas di bidang riset terutama riset dasar misalnya identifikasi berbagai jenis hewan dan tumbuhan di Indonesia baik darat maupun  laut.  Pada hari pertama aku dan teman – teman seangkatan di ajak berkeliling ke Kapal Riset Baruna Jaya VIII dan Baruna Jaya VII, kemudian berlanjut ke UPT Sumberdaya Manusia Oseanografi, Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Perjalanan ketika menuju pulau pari sempat terhalang oleh hujan deras dan berangin. Setelah beberapa hari kemudian aku bersiap – siap untuk berangkat ke UPT LP bio Industri Laut di Pulau Lombok tempat kerja aku seterusnya. Di pulau Lombok ini selanjutnya aku bertemu dengan jodohku tahun 2007 dan kami dikaruniai oleh Allah seorang bayi perempuan yang cantik. Hingga suatu hari aku melihat website akumassa, organisasi jurnalis warga yang berlokasi di Pemenang, Lombok Utara dan aku tertarik untuk bergabung bersama mereka menjadi bagian dari keluarga besar akumassa pemenang, Lombok Barat, NTB. Saat itu juga aku mencoba memberanikan diri untuk menghubungi kontak person yang tertulis pada website tersebut dan ternyata namanya Ghazali. Akhirnya aku berkenalan dan menanyakan tentang akumassa dan syarat keanggotaannya, ternyata dia mengenal salah satu temanku yang juga baru beberapa bulan aku kenal bernama Dina Mariana. Selanjutnya aku membuat janji dengan Ghazali untuk bertemu di sekretariat Komunitas Pasir Putih bersama Dina yang aku bujuk untuk ikutan gabung sekaligus penunjuk jalan.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More